Berita Utama

Purwokerto Darurat Identitas

Dilihat : 13134 Kali, Updated: 02 03 2015 09:39:28
Purwokerto Darurat Identitas

Pegiat Komunitas Kreatif Republik Kertas Purwokerto, Heri Kristanto, menilai Purwokerto saat ini sudah ”darurat” identitas. Menurut dia, brand sebuah daerah atau kota yang menjadi identitas tidak bisa dipahami sebatas slogan teknis. Harus lahir dari proses kultural dan kesepakatan bersama para pihak.

”Jika Banyumas pintu masuknya lebih dikenal nama Purwokerto, mestinya itu yang harus terus dikelola. Jangan semata menjadi identitas teknis penyebutan daerah saja, tapi spirit warga yang menopang identitas harus dikelola dan difasilitasi dengan baik,” katanya, kemarin.

Diungkapkan, hal itu biar tidak telanjur terjebak dalam penyebutan istilah teknis seperti yang banyak terjadi di daerah lain. Misalnya di Kabupaten Kulon Progo dengan The Jewel of Java sebagai brand-nya.

Kabupaten Sumenep yang mengangkat citra The Soul of Madura, kemudian Yogyakarta Never Ending Of Asia, Semarang dengan Beauty of Asia, Pekalongan dengan Word of Batik, dan Solo dengan Spirit of Java dan lain-lain.

”Terlepas dari isu pemekaran, Banyumas tetap perlu membangun city branding. Tujuannya agar menjadi makin tumbuh dan dinamis. Di sisi lain bila Purwokerto lebih dikenal di luar daripada Banyumas, maka itu hanya persoalan strategi saja,” kata Humas Zona Bombong itu.

Dalam membangun identitas daerah, kata dia, kuncinya pada pola komunikasi yang dibangun. Meliputi komunikasi primer dan sekunder. Komunikasi primer seperti kelembagaan, infrastruktur, budaya, tata kota. Kemudian komunikasi sekunder, seperti logo, slogan, desain, tagline dan lain-lain

Jika Purwokerto disepakati sebagai pintu masuk sebuah rumah besar bernama Banyumas. katanya, prasyarat minimal memang sudah ada. Seperti sarana transportasi antarkota antarprovinsi. Termasuk adanya berbagai layanan administrasi yang diselenggarakan makin mendukung Purwokerto sebagai ”Pintunya Banyumas”.

Perkembangan kota Purwokerto kian hari kian pesat, bahkan 20 tahun ke depan daerah itu telah dirancang menjadi kawasan perkotaan dengan sembilan subwilayah bagian atau ada wacana pengembangan menjadi 11 kecamatan dari empat kecamatan (eks kota administrasi).

Harapannya adalah menjadi kota besar dan penuh menjanjikan, sehingga menarik menjadi tarik ulur beragam kepentingan. Namun, di sisi lain sebagian kalangan sejauh ini masih menilai Purwokerto belum mampu menjawab identitas diri yang sesungguhnya.

Yakni identitas sebagai ciri khas yang dihasilkan atau lahir dari kesepakatan bersama antarwarga masyarakat bersama pemerintah setempat, sehingga pada akhirnya menjadi nilai kebanggaan bersama. (G22-17,48)

Sumber: https://berita.suaramerdeka.com/smcetak/purwokerto-darurat-identitas/

Komentar