Berita Utama

Kegagalan "Berjamaah" Akan Ditanggung Bersama

Dilihat : 7992 Kali, Updated: 23 02 2015 09:12:55
Kegagalan

Kekuatan utama membangun city branding Banyumas maupun Kota Purwokerto adalah upaya bersama untuk bisa merapikan jamaah (semua elemen atau stakeholder) di daerah ini.

Karena itu upaya pelibatan dari segenap komponen dan potensi untuk memenuhi panggilan mereka menjadi bagian dan merasa ikut memiliki dan menyengkuyung adalah sebuah keniscayaan.

Demikian salah satu inti sari dari ”Urun Rembung City Branding Banyumas”, Selasa (23/12) di Pendapa Si Panji yang difasilitasi Bappeda Banyumas.  Peserta dari kalangan akademisi berbagai perguruan tinggi, budayawan, pemerintah daerah, berbagai komunitas, pegiat sosial kemasyarakatan, pelaku usaha, mahasiswa dan elemen masyarakat lain.

”Saya percaya bahwa kita ini adalah bangsa yang besar, tapi belum tentu menjadi bangsa yang kuat. Kita punya beragam potensi, tetapi kalau tidak ditata jamaahnya, maka muncul kemacetan, emosi dan saling berebut. Ketika kita gagal berjamaah, kesalahan itu akan ditanggung bersama,” kata  M Arief Budiman, anggota Tim 11 Rebranding Jogja yang dihadirkan sebagai salah satu nara sumber.

Menurutnya, city branding adalah panggilan azan untuk masyarakat Banyumas mulai menengok ke masjid kecil (daerahnya) yang dulu pernah tinggal dan berjamaah kembali. Kalau itu panggilan suci mereka, setiap elemen Banyumas akan menjadi  panggilan jiwa dan kekuatan jamaah luar biasa.

City Branding adalah menciptakan bagaimana Banyumas menjadi magnet, agar setiap elemen masyarakat datang. Kalau internal itu tidak jamaah, maka akan terjadi kekacauan.

”Berjamaah itu bukan pilihan, namun merupakan bentuk keniscayaan. Berjamaah mengubah yang lemah menjadi kuat. Yang tidak mampu menjadi mampu. Recehan menjadi miliaran, dan buih menjadi gelembung,” katanya mengilustrasikan.

CEO Petakumpet itu menekankan city branding bukan hanya memberikan tagline dan lambang kota, namun harus menjadi panggilan jiwa untuk merapikan jamaah.

Menurutnya, mengapa city branding sangat penting?  Alasannya adalah saat sebuah kota atau daerah mengambil satu keputusan maka akan ada konsekuesinya. Ke depan keputusan itu bukan antarnegara lagi, namun juga antarkota. City branding harus menyinggung tiga elemen, yakni pemerintah, sipil, dan pasar.

Praktisi city branding dari Cilacap, Erwin, dalam paparannya mengemukakan city branding ada dalam pemasaran. Namun berbeda dengan sales. Pemasarannya juga berbeda dengan periklanan.

Ciptakan Kesadaran              

Brand atau merek tujuannya adalah untuk menciptakan kesadaran. Tujuan city branding juga harus tahu visi dan misi dari daerah tersebut.

”Jika Purwokerto akan dijadikan sebagai city branding, maka tentukan target sasaran, citra kota. Pengembangan city branding jangan kamuflase atau palsu. Harus dibina, jangan top down, tapi harus mengikutsertakan masyarakat luas dan sinergi dengan pemerintahaan pusat,” sarannya.

Karena pasca keberhasilan city branding, lanjut dia, adalah kerja sama stakeholder. Tim branding adalah regenerasi. Keberhasilannya, di antaranya dapat diukur melalui kuantitatif seperti jumlah perputaran uang dan penghargaan.

Bupati Achmad Husein, saat menjadi keynote speaker, menyampaikan Pemkab ikut menfasilitasi urun rembug tersebut karena merasa tidak tahu, tidak bisa dan tidak punya kemampuan.

Namun, katanya, Pemkab juga punya keinginan besar bagaimana Banyumas menjadi gula atau magnet kesenian dan budaya yang akan membawa masyarakatnya dapat menaikkan pamor di tingkat nasional, bahkan dunia.

Harus dimulai dari kesan lebih dulu, apa itu Banyumas atau kemasan. Misalnya kue dengan kemasan yang indah, maka akan tahu isinya. Isi akan selalu menjadi prioritas dan akan menjadi tanggung jawab bersama.

”Isi jangan sampai palsu, karena Banyumas akan menjadi gulanya Indonesia. Kami merasa tidak bisa, karena itu membutuhkan bantuan teman-taman akademisi, komunitas dan budayawan dan elemen lain untuk mengawali proses city branding yang baik,” katanya.

Dosen komunikasi Unsoed, Bambang Widodo, mengatakan ada tiga syarat pokok yang harus dipenuhi dalam city branding. Pertama, harus menjadi spirit perilaku masyarakat pribumi. Tanpa menjadi filosofi dan perilaku masyarakat pribuminya, tidak bisa dilakukan.

Kedua, harus diangkat dari sosio kultural, dan syarat ketiga adalah harus ada komponen primer, infrastruktur, dan struktur organisasi.

Budayawan Banyumas Ahmad Tohari, menekankan bahwa kekuatan masyarakat Banyumas ada pada cablaka dan tidak terikat oleh kekuatan kebudayaan lain. Jadi akar historis jangan ditinggalkan saat mendesain city branding Banyumas atau Kota Purwokerto.

Dalam kesimpulkan yang dibacakan Firdaus Putra,  koordinatpr jaringan kerja Banyumas Inspirasi selaku moderator, menyampaikan  jika kota ini mau dibranding, harus mengkolaborasikan dua strategi antara pemerintah dan stakeholder serta dibentuk tim yang peduli terhadap city branding.

Kemudian Bupati harus melihat kesiapan dari semua elemen-elemen di Banyumas, karena cepat, lambat dan sedang proses city branding harus melalui  tiga tahapan. Yakni warga masyarakat, tamu/saudara yang akan memromosikan, dan investor.(Agus Wahyudi-17)

Sumber: https://berita.suaramerdeka.com/smcetak/kegagalan-berjamaah-akan-ditanggung-bersama/

Komentar